Sabtu, 09 Juni 2012

Makna Al hubb


oleh : ahnajd junaidy al-batawie

Al-Ghazali dalam karyanya Ihya Ulumuddin membahas mahabbah secara luas. Dalam pembahasan tersebut, Al-Ghazali antara lain memberi ulasan pada salah satu syair Rabiatul Adawiyah tentang pembahagian cinta. Dalam syair disebutkan:

Aku mencintaiMu dengan dua macam cinta
Cinta kerana diriku dan cinta kerana diriMu
Cinta kerana diriku adalah keadaan sentiasa mengingatMu
Cinta kerana diriMu adalah keadaanMu
Menyingkapkan tabir hingga Engkau ku lihat
Baik untuk ini dan baik untuk itu
Pujian bukanlah untukku
bagiMu segala pujian

menurut Al-Ghazali, dalam memperkatakan pembahagian cinta tersebut, mungkin yang dimaksudkan dengan cinta kerana diriku atau oleh dorongan hati belaka adalah cinta pada Allah kerana kebaikan dan kurniaNya. Sedangkan bentuk cinta kedua, kerana diriMu adalah cinta keindahan dan keagunganNya. Cinta terakhir inilah yang paling luhur dan mendalam serta merupakan kesihatan melihat keindahan Tuhan.
Sebelum membahas pengertian mahabbah secara terminologi, terlebih dahulu perlu diungkap pengertian mahabbah menurut etimonologi. Dalam pengertian terakhir, misalnya, Al-Hujwiri dalam kitabnya Kasful Mahjub mencoba menjelaskan makna al-hubb (mahabbah). Menurut riwayat, mahabbah berasal dari kata habbab yang berarti benih-benih yang jatuh ke bumi di padang pasir. Sebutan hubb diartikan demikian kerana cinta adalah sumber kehidupan, sebagaimana benih yang merupakan asal mula tanaman. Benih disebarkan di gurun pasir, tersembunyi di bumi, hujan pun turun, matahari menyinari bumi. Namun, benih tersebut tidak rusak oleh perubahan musim, malah tumbuh, berbunga dan memberikan buah. Demikian juga cinta, bilamana ia hadir dalam hati seseorang, ia tidak akan rosak oleh kehadiran dan ketidakhadiran, oleh senang atau susah, oleh perpisahan atau kesatuan.
Mahabbah dapat pula diambil dari kata hubb yang berarti sebuah tempayan yang penuh dengan air tenang, kerana cinta yang telah terpadu dalam hati dan memenuhi hati, di situ tidak ada lagi ruang bagi pemikiran selain yang dicinta. Makna lain mahabbah, diambil dari kata hubb yang berarti empat keping kayu penyangga pada air, karena sebagai pencinta dengan suka hati menerima apa saja yang dilakukan oleh kekasihnya, berkenan atau tidak, susah ataupun senang.
Di samping itu, hubb dapat juga diartikan dengan gelembung-gelembung air dan luapannya di waktu hujan lebat, kerana cinta merupakan luapan hati yang menundukkan kesatuan dengan kekasih. Makna demikian diambil dari mahabbah yang diturunkan dari kata hubbab. Hubb juga dijadikan sebagai sebutan cinta murni.
Cinta adalah fitrah alamiah manusia. Atas dasar ini kita melihat bahawa setiap manusia tertarik pada anggota2 lain di antara jenisnya dengan suatu kekuatan batin.
Masih dalam pembahasan yang sama, Prof. Harun Nasution menjelaskan cinta sebagai berikut:
a)    Memeluk kepatuhan kepada Tuhan dan membenci sikap melawanNya
b)   Menyerahkan seluruh diri kepada Yang Dikasihi
c)    Mengosongkan hati dari segala-galanya, kecuali dari Yang Dikasihi.

NABI MUHAMMAD SAW BERTEMU PARA NABI AS DAN DIDOAKAN KETIKA ISRO MI'ROJ


Oleh : Guruku Tercinta
Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata: Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Aku didatangi Buraq. Lalu aku menunggangnya sampai ke Baitulmakdis. Aku mengikatnya pada pintu mesjid yang biasa digunakan mengikat tunggangan oleh para nabi. Kemudian aku masuk ke mesjid dan mengerjakan salat dua rakaat. Setelah aku keluar, Jibril datang membawa bejana berisi arak dan bejana berisi susu. Aku memilih susu, Jibril berkata: Engkau telah memilih fitrah.
 Lalu Jibril membawaku naik ke langit. Ketika Jibril minta dibukakan, ada yang bertanya: Siapakah engkau? Dijawab: Jibril. Ditanya lagi: Siapa yang bersamamu? Jibril menjawab: Muhammad. Ditanya: Apakah ia telah diutus? Jawab Jibril: Ya, ia telah diutus. Lalu dibukakan bagi kami. Aku bertemu dengan Adam. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Kemudian aku dibawa naik ke langit kedua. Jibril as. minta dibukakan. Ada yang bertanya: Siapakah engkau? Jawab Jibril: Jibril. Ditanya lagi: Siapakah yang bersamamu? Jawabnya: Muhammad. Ditanya: Apakah ia telah diutus? Jawabnya: Dia telah diutus. Pintu pun dibuka untuk kami. Aku bertemu dengan Isa bin Maryam as. dan Yahya bin Zakaria as. Mereka berdua menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Aku dibawa naik ke langit ketiga. Jibril minta dibukakan. Ada yang bertanya: Siapa engkau? Dijawab: Jibril. Ditanya lagi: Siapa bersamamu? Muhammad saw. jawabnya. Ditanyakan: Dia telah diutus? Dia telah diutus, jawab Jibril. Pintu dibuka untuk kami. Aku bertemu Yusuf as. Ternyata ia telah dikaruniai sebagian keindahan. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Aku dibawa naik ke langit keempat. Jibril minta dibukakan. Ada yang bertanya: Siapa ini? Jibril menjawab: Jibril. Ditanya lagi: Siapa bersamamu? Muhammad, jawab Jibril. Ditanya: Apakah ia telah diutus? Jibril menjawab: Dia telah diutus. Kami pun dibukakan. Ternyata di sana ada Nabi Idris as. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Allah Taala berfirman Kami mengangkatnya pada tempat (martabat) yang tinggi. Aku dibawa naik ke langit kelima. Jibril minta dibukakan. Ada yang bertanya: Siapa? Dijawab: Jibril. Ditanya lagi: Siapa bersamamu? Dijawab: Muhammad. Ditanya: Apakah ia telah diutus? Dijawab: Dia telah diutus. Kami dibukakan. Di sana aku bertemu Nabi Harun as. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Aku dibawa naik ke langit keenam. Jibril as. minta dibukakan. Ada yang bertanya: Siapa ini? Jawabnya: Jibril. Ditanya lagi: Siapa bersamamu? Muhammad, jawab Jibril. Ditanya: Apakah ia telah diutus? Jawabnya: Dia telah diutus. Kami dibukakan. Di sana ada Nabi Musa as. Dia menyambut dan mendoakanku dengan kebaikan. Jibril membawaku naik ke langit ketujuh. Jibril minta dibukakan. Lalu ada yang bertanya: Siapa ini? Jawabnya: Jibril. Ditanya lagi: Siapa bersamamu? Jawabnya: Muhammad. Ditanyakan: Apakah ia telah diutus? Jawabnya: Dia telah diutus. Kami dibukakan. Ternyata di sana aku bertemu Nabi Ibrahim as. sedang menyandarkan punggungnya pada Baitulmakmur. Ternyata setiap hari ada tujuh puluh ribu malaikat masuk ke Baitulmakmur dan tidak kembali lagi ke sana. Kemudian aku dibawa pergi ke Sidratulmuntaha yang dedaunannya seperti kuping-kuping gajah dan buahnya sebesar tempayan. Ketika atas perintah Allah, Sidratulmuntaha diselubungi berbagai macam keindahan, maka suasana menjadi berubah, sehingga tak seorang pun di antara makhluk Allah mampu melukiskan keindahannya. Lalu Allah memberikan wahyu kepadaku. Aku diwajibkan salat lima puluh kali dalam sehari semalam. Tatkala turun dan bertemu Nabi saw. Musa as., ia bertanya: Apa yang telah difardukan Tuhanmu kepada umatmu? Aku menjawab: Salat lima puluh kali. Dia berkata: Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan, karena umatmu tidak akan kuat melaksanakannya. Aku pernah mencobanya pada Bani Israel. Aku pun kembali kepada Tuhanku dan berkata: Wahai Tuhanku, berilah keringanan atas umatku. Lalu Allah mengurangi lima salat dariku. Aku kembali kepada Nabi Musa as. dan aku katakan: Allah telah mengurangi lima waktu salat dariku. Dia berkata: Umatmu masih tidak sanggup melaksanakan itu. Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan lagi. Tak henti-hentinya aku bolak-balik antara Tuhanku dan Nabi Musa as. sampai Allah berfirman: Hai Muhammad. Sesungguhnya kefarduannya adalah lima waktu salat sehari semalam. Setiap salat mempunyai nilai sepuluh. Dengan demikian, lima salat sama dengan lima puluh salat. Dan barang siapa yang berniat untuk kebaikan, tetapi tidak melaksanakannya, maka dicatat satu kebaikan baginya. Jika ia melaksanakannya, maka dicatat sepuluh kebaikan baginya. Sebaliknya barang siapa yang berniat jahat, tetapi tidak melaksanakannya, maka tidak sesuatu pun dicatat. Kalau ia jadi mengerjakannya, maka dicatat sebagai satu kejahatan. Aku turun hingga sampai kepada Nabi Musa as., lalu aku beritahukan padanya. Dia masih saja berkata: Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan. Aku menyahut: Aku telah bolak-balik kepada Tuhan, hingga aku merasa malu kepada-Nya. (Shahih Muslim No.234)

PARA AHLUL HADIST


oleh : junaidy al-batawie

Perintis jejak pertama yang mengenakan mahkota fuqaha ahli hadits adalah para sahabat Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam.

Yang paling masyhur dari mereka antara lain:

1.      Khalifah yang empat (Radhiyallahu ‘anhum ) :
  • Abu Bakr Ash-Shiddiq
  • Umar bin Al-Khaththab
  • Utsman bin Affan
  • Ali bin Abi Thalib.

2.      Al-Abadillah (Radhiyallahu ‘anhum ) :
  • Ibnu Umar
  • Ibnu Abbas
  • Ibnu Az-Zubair
  • Ibnu Amr
  • Ibnu Mas'ud
  • Aisyah
  • Ummu Salamah
  • Zainab
  • Anas bin Malik
  • Zaid bin Tsabit
  • Abu Hurairah
  • Jabir bin Abdillah
  • Abu Said Al-Khudri
  • Mu'adz bin Jabal

3.      Setelah sahabat Rasulullah adalah para tokoh tabi'in Rahimahumullah antara lain:

  • Said bin Al-Musayyib wafat 90 H
  • Urwah bin Az-Zubair wafat 94 H
  • Ali bin Al-Husain Zainal Abidin wafat 93 H
  • Muhammad bin Al-Hanafiyah wafat 80 H
  • Ubaidullah bin Abdillah bin Utbah bin Mas'ud wafat 94 H atau setelahnya
  • Salim bin Abdullah bin Umar wafat 106 H
  • Al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr Ash- Shiddiq wafat 106 H
  • Al-Hasan Al-Bashri wafat 110 H
  • Muhammad bin Sirin wafat 110 H
  • Umar bin Abdul Aziz wafat 101 H
  • Muhammad bin Syihab Az-Zuhri wafat 125 H

4.      Kemudian tabi'ut tabi'in dan tokoh mereka Rahimahumullah :
  • Malik bin Anas wafat 179 H
  • Al-Auza'i wafat 157 H
  • Sufyan bin Said Ats-Tsauri wafat 161 H
  • Sufyan bin Uyainah wafat 193 H
  • Ismail bin Aliyah wafat 193 H
  • Al-Laits bin Sa'ad wafat 175 H
  • Abu Hanifah An-Nu'man wafat 150 H

5.      Kemudian pengikut mereka di antara tokoh mereka Rahimahumullah:
  • Abdul.lah bin Al-Mubarak wafat 181 H
  • Waki' bin Al-Jarrah wafat 197 H
  • Muhammad bin Idris Asy-Syafi'I wafat 204 H
  • Abdurrahman bin Mahdi wafat 198 H
  • Yahya bin Said Al-Qathan wafat 198 H
  • Affan bin Muslim wafat 219 H

6.      Kemudian murid-murid mereka yang berjalan di atas manhaj mereka di antaranya (Rahimahumullah) :
  • Ahmad bin Hambal wafat 241 H
  • Yahya bin Ma'in wafat 233 H
  • Ali bin Al-Madini wafat 234 H

7.      Kemudian murid-murid mereka di antaranya (Rahimahumullah) :
  • Al-Bukhari wafat 256 H
  • Muslim wafat 271 H
  • Abu Hatim wafat 277 H
  • Abu Zur'ah wafat 264 H
  • Abu Dawud : wafat 275 H
  • At-Turmudzi wafat 279 H wafat 303 H
  • An Nasa'i wafat 234 H

8.      Kemudian orang-orang yang berjalan di atas jalan mereka dari generasi ke generasi antara lain (Rahimahumullah):
  • Ibnu Jarir wafat 310 H
  • Ibnu Khuzaimah wafat 311 H
  • Ad-Daruquthni wafat 385 H
  • Ath-Thahawi wafat 321 H
  • Al-Ajurri wafat 360 H
  • Ibnu Baththah wafat 387 H
  • Ibnu Abu Zamanain wafat 399 H
  • Al-Hakim An-Naisaburi wafat 405 H
  • Al-Lalika'i wafat 416 H
  • Al-Baihaqi wafat 458 H
  • Ibnu Abdil Bar wafat 463 H
  • Al-Khathib Al-Baghdadi wafat 463 H
  • AI-Baghawi wafat 516 H
  • Ibnu Qudamah wafat 620 H

9.      Di antara murid mereka dan orang meniti jejak mereka (Rahimahumullah) :
  • Ibnu Abi Syamah wafat 665 H
  • lbnu Taimiyah wafat 652 H
  • Ibnu Daqiq Al-led wafat 702 1-1
  • Ibnu Ash-Shalah wafat 643 H
  • Ibnu Taimiyah wafat 728 H
  • Al-Mizzi wafat 742 H
  • Ibnu Abdul Hadi wafat 744 H
  • Adz-Dzahabi wafat 748 H
  • Ibnul Qayyim wafat 751 H
  • Ibnu Katsir wafat 774 H
  • Asy-Syathibi wafat 790 H
  • Ibnu Rajab wafat 795 H

10.  Ulama setelah mereka yang mengikut jejak mereka di dalam berpegang dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah sampai hari ini. Di antara mereka (Rahimahumullah) :
  • Ash-Shan'ani wafat 1182 H
  • Muhammad bin Abdul Wahhab wafat 1206 H
  • Al-Luknawi wafat 1304 H
  • Muhammad Shiddiq Hasan Khan wafat 1307 H
  • Syamsul Haq Al-Azhim wafat 1349 H
  • Al-Mubarakfuri wafat 1353 H
  • Abdurrahman As-Sa`di wafat 1367 H
  • Ahmad Syakir wafat 1377 H
  • Al-Mu'allimi Al-Yamani wafat 1386 H
  • Muhammad bin Ibrahim Alu Asy-Syaikh wafat 1389 H
  • Muhammad Amin Asy-Syinqithi wafat 1393 H
  • Badi'uddin As-Sindi wafat 1416 H
  • Muhammad Nashiruddin Al-Albani wafat 1420 H
  • Abdul Aziz bin Abdillah Baz wafat 1420 H
  • Hammad Al-Anshari wafat 1418 H
  • Hamud At-Tuwaijiri wafat 1413 H
  • Muhammad Al-Jami wafat 1416 H
  • Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin wafat 1423 H
  • Shalih bin Fauzan Al-Fauzan (h)
  • Abdul Muhsin Al-Abbad (h)
  • Rabi' bin Hadi Al-Madkhali (h)
  • Muqbil bin Hadi Al-Wadi'i wafat 1423 H

Di antara guru-guru dan teman-teman kami serta orang-orang yang kami kenal dari kalangan penuntut ilmu- semoga Allah membaikkan akhir hayat kami dan mereka berada di atas jalan ahli hadits. Itulah syiar dan slogan mereka semoga Allah mengampuni mereka semua, dan
menganugrahkan kepada kami dan mereka ketetapan di atas kebenaran dan menjadikan akhir amalan kami kebaikan, kenikmatan dan kemuliaan-Nya.

Kamis, 07 Juni 2012

TANYA JAWAB TENTANG HUKUM ORANG YG MENGAMALKAN IBADAH DENGAN PAMRIH MENGHARAPKAN PAHALA OLEH IMAM ALHADAD



Oleh : Erwin As-Sundawy
Soal:bgaimna hkmnya orng yg mngmalkan ibdah dgn pamrih mnghrapkan phala?.
jwab: itu adlah hrapan yg trpuji&merupakan amal yg berkah,&itu tlah dmngerti srta dyakini oleh sgenap kaum mslimin.Kaum mslimin gnrasi salaf&khlaf,smuanya mlkukan ibdah sperti itu.  Sbab mnusia dciptkan Alloh sbgai mkhluq yg lmah,tdk brdya,&trgntumg pda krunia Rabb-Nya Yg Mha Kya&Mha Pmurah.
Dmikian jwban scara pkok.Pmbicaraan rinci mngenai soal itu sngtlah pnjang.Nmun kta sbutkan sja sdikit.Orng2 yg bramal ibadah dmi krena Alloh trbgi 3 glngan.Ada yg bramal ibdah krna tkut hkuman('adzab),mrka itu adlah orng yg bribdah krna tkut kpda Alloh.Ada yg bribdah krna mnghrap gnjran phala,mreka ini bribdah krena mnghrap karunia Alloh.Adpula orng yg bribdah smata2 hnya krena mlksanakan printah Alloh,mreka ini adlah orng2 'arif.
Tntu sja mreka bribdah dsertai hrapan& rsa tkut kpda Alloh.Orng2 yg bribdah krena rsa tkutpun disertai hrapan&ksdaran pnuh pngertian.Ttapi umumnya mnusia hnya mngkuti keadaan dmana ia brada.Bsa jdi apa yg dktakan oleh smntara ahli tasawuf mngenai orng yg bribdah dgn mnghrapkan phla krna tkut,tmpaknya krng dmngerti atw dtrima dgn pngertian keliru.Hal itu sbnarnya dmksudkan untuk mnkankan,bhwa amal ibdah yg smta2 hnya untuk mmtuhi printah Alloh tntu lbih afdlol dripda ibdah smta2 krna hrapan&ktkutan.
Dmikianlah dduk prsoalannya.Nmun,msing2 ibdah mmpnyai pringkat/mqom yg tdk sma.Yg stu lbih tnggi dripda yg lain.Mnusia tdk brwenang mntapkan ibdah apa mnrut plihannya sndiri,sbab ibdah itu adlah printah Alloh Swt.Dia-lah yg yg mwjibkan ibdah kpada siapa sja dri hmba2-Nya,dmana sja dan mnrut khndak-Nya.Alloh Yg Mha Bnarlah yg mnntukan slah stu dri 3 mqom/pringkat itu,&mwjibkannya kpada glongan trtntu kaum beriman. 3mqom ibdah itu adlah:bribdah smta2 krna printah Alloh,bribdah krena suatu hrapan,&bribdah krna tkut kpda hkuman Alloh.Keadaan msing2 glongan atw klmpok tdk akan mnjdi lrus kcuali dgn mngmalkan ibdah ssuai dgn yg dwjibkan kpda mreka.Mngkin ada smentra orng dri kaum ahli ma'rifat yg mmndang rndah orng lain yg bribdah krna hrapan akan beroleh phala.Ia dpndang lbih rndah dripda orng yg bribdah tdk atas drongan ingin beroleh gnjran phla&tdk trdrong oleh ktakutannya kpada hkuman/siksa.Ia tdk lg bribdah scra "asli" sbgaimana yg dperintahkan Alloh.Dgn dmikian seakan2 di dlam htinya tdk trdpat prasaan mngagungkan kbsaran Alloh yg tlah mmrintahkan dri mreka mnjalankan printah2-Nya.Mslah dmikian itu sngguh tdk jlas.Sya brpndpat,bhwa dlm mmandang mslah scra dmikian itu trdpat ssuatu yg mnyrupai kslahan.Nmun ada smntara ahli tarekat yg mnekuninya.Sya ktakan,bribdah mmtuhi printah Alloh,mndmbakan keridloan-Nya&mndkatkan dri kpda-Nya adlah sngat baik.Ibdah yg dsertai hrapan beroleh phala&prasaan tkut kpada hkuman/siksa jga sngat baik.Smua ahlulloh/kaum briman pda umumnya mngmalkan 3 maqom/pringkat ibdah tsb dgn lngkap&smpurna.
Oleh krena itu,hndaklah mnusia mnydari kwjiban apa yg tlah dittapkan Alloh bginya,&mngmalkannya dgn baik.Jngn smpai sprti buruh upahan yg jlek,yg jka tdk dberi upah ia tdk mau bkerja.&jngn pula sperti bdak yg jlek,yg jka bkan krena tkut pkulan ia tdk mau brlku sopan.Hndaklah stiap orang bribdah dmi krena Alloh,sbab Alloh adlah Pnguasanya,Pmiliknya,&Plindungnya srta Pngtur hdup&mtinya.Krena itulah Alloh mntapkan printah &lrangan tuk ditaati&dpatuhi hmba2-Nya.Mnghrapkan gnjran phala &karunia Alloh adlah hal yg baik.Nmun,hrus disrtai prasaan tkut akan hkuman sbgai akibat pula dri kelalainnya sndiri dlm mnunaikan kwjiban ibdah kpada Alloh,Rabbnya.Dlam hal sprti itu ia ttap dpat menghrapkan ampunan &kselamatan sbgai krunia dri Alloh.Itulah tarekat(cra mndkatkan diri kpda Alloh) yg pling baik&jlan yg pling mulus,sbgaimana yg dtempuh&diamalkan oleh kaum solihin &kaum ulama.Brangsiapa mmperhtikan ucpan&perikehidupan mreka,&ia seorang yg brpndangan tajam,tentu ia akan mngerti apa yg kami ktakan di atas,&ia pun tentu akan dpat memahami dgn tepat&benar.Nastagfirulloha wa nahmaduhu katsiron.Tamat
sory,teks arabnya gak ditulis.silakan dilihat dikitab nafaisul 'ulwiyah imam Alhadad

pentingnya memilih teman

 oleh : gayok el jawi,,


man asyarol asyaroofaa syamu syaroofa,, 
wa mu'aasyiruul andzali ghoiru musyarrofu,,
awalam tarol jildal haqiiiro muqobbala,,
bi tsughri lammaa shooro jildal mushafi,,,

orang yang berteman dengan orang yang mulia maka ia akan menjadi mulia,, dan sebaliknya orang yang berteman dengan orang yang hina maka ia akan menjadi hina,,
lihathah ketika kulit sapi, menjadi sampul alqur'an.. 

semua orang mencium kulit sapi,, pejabat selesai baca qur'an cium kulit sapi,, presiden selesai baca qur'an cium kulit sapi,, bupati selesai baca qur'an cium kulit sapi,, polisi selesai baca qur'an cium kulit sapi,, kiyai selesai baca qur'an cium kulit sapi,, 

tapi sebaliknya ketika kulit sapi menempel pada kayu,, 
waktu maghrib pukul kulit sapi,, datang waktu ashar waktu isya pukul kulit sapi,, lihatlah saudaraaaa,, perbedaan kulit sapi,, padahal sama2 kulit sapinya,, tapi mendapatkan tingkatan yang berbedaaa,,, 

wallahu a'lam bisshawaabb

Aswaja dan Tantangan Masa Kini di Indonesia

Sebelum kelompok-kelompok teologis dalam Islam lahir, Ahlussunnah Wal Jamaah (selanjutnya disebut Aswaja) adalah umat Islam itu sendiri. Namun setelah kelompok-kelompok teologis muncul, Aswaja berarti para pengikut Abu Hasan al-Asy’ari dan Abu Manshur al-Maturidi.
Dalam pengertian terakhir ini, Aswaja sepadan dengan kelompok-kelompok teologis semisal Mu’tazilah, Syiah, Khawarij dan lain-lain.
Dalam sejarahnya, kemunculan kelompok-kelompok ini dipicu oleh masalah politik tentang siapakah yang berhak menjadi pemimpin umat Islam (khalifah) setelah kewafatan Rasulullah, Muhammad SAW. Setelah perdebatan antara kelompok sahabat Muhajirin dan Anshor dituntaskan dengan kesepakatan memilih Abu Bakar sebagai khalifah pertama, kesatuan pemahaman keagamaan umat Islam bisa dijaga. Namun menyusul huru-hara politik yang mengakibatkan wafatnya khalifah ketiga, Utsman Bin Affan, yang disusul dengan perang antara pengikut Ali dan Muawiyah, umat Islam terpecah menjadi kelompok-kelompok Syiah, Khawarij, Ahlussunnah dan –disusul belakangan, terutama ketika perdebatan menjadi semakin teologis oleh—Mu’tazilah dan lain-lain.
Aswaja melihat bahwa pemimpin tertinggi umat Islam ditentukan secara musyawarah, bukan turun-temurun pada keturuan Rasulullah SAW sebagaimana pandangan Syiah. Aswaja memandang keseimbangan fungsi nalar dan wahyu, tidak memposisikan wahyu di atas nalar sebagaimana pandangan Mu’tazilah. Aswaja melihat manusia memiliki kekuasaan terbatas (kasb) dalam menentukan perbuatan-perbuatannya, bukan semata disetir oleh kekuatan absolut di luar dirinya (sebagaimana pandangan Jabariyah) atau bebas absolut menentukan perbuatannya (sebagaimana pandangan Qadariyah dan Mu’tazilah).
Pada wilayah penggalian hukum fiqh, Aswaja (sebagaimana diwakili oleh Imam yang empat: Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali) bersepakat menggunakan empat sumber hukum: Al-Qur’an, Sunnah, Ijma’, Qiyas; dan tidak bersepakatan dalam menggunakan sumber-sumber yang lain semisal: istihsan, maslahah mursalah, amal ahl al madinah dan lain-lain.
Setelah melalui evolusi sejarah panjang, Aswaja sekarang ini menjadi mayoritas umat Islam yang tersebar mulai dari Jakarta (Indonesia) hingga Casablanca (Maroko), disusul oleh Syi’ah di Iran, Bahrain, Lebanon Selatan; dan sedikit Zaidiyah (pecahan Mu’tazilah) di sejumlah tempat di Yaman. Dengan mengacu pada ajaran Muhammad Bin Abdulwahhab, rezim Saudi Arabia berafiliasi kepada apa yang disebut Wahabi. Sementara di Asia Selatan (Afganistan dan sekitarnya) reinkarnasi Khawarij menemukan tanah pijaknya dengan sikap-sikap keras dalam mempertahankan dan menyebarkan keyakinan.
Di Indonesia, Aswaja kurang lebih sama dengan nahdliyin (sebutan untuk jamaah Nahdlatul Ulama), meskipun jamaah Muhammadiyah adalah juga Aswaja dengan sedikit perbedaan pada praktik hukum-hukum fiqh. Artinya, arus besar umat Islam di Indonesia adalah Aswaja.
Yang paling penting ditekankan dalam internalisasi ajaran Aswaja di Indonesia adalah sikap keberagamaan yang toleran (tasamuh), seimbang (tawazun), moderat (tawassuth) dan konsisten pada sikap adil (i’tidal). Ciri khas sikap beragama macam inilah yang menjadi kekayaan arus besar umat Islam Indonesia yang menjamin kesinambungan hidup Indonesia sebagai bangsa yang plural dengan agama, suku dan kebudayaan yang berbeda-beda.
Ada dua kekuatan besar yang menjadi tantangan Aswaja di Indonesia sekarang ini dan di masa depan: kekuatan liberal di satu pihak dan kekuatan Islam politik garis keras di pihak yang lain. Kekuatan liberal lahir dari sejarah panjang pemberontakan masyarakat Eropa (dan kemudian pindah Amerika) terhadap lembaga-lembaga agama sejak masa pencerahan (renaissance) yang dimulai pada abad ke-16 masehi; satu pemberontakan yang melahirkan bangunan filsafat pemikiran yang bermusuhan dengan ajaran (dan terutama lembaga) agama; satu bangunan pemikiran yang melahirkan modernitas; satu struktur masyarakat kapital yang dengan globalisasi menjadi seolah banjir bandang yang siap menyapu masyarakat di negara-negara berkembang, termasuk di Indonesia.
Sebagai reaksinya, sejak era perang dingin berakhir dengan keruntuhan Uni Soviet, Islam diposisikan sebagai “musuh” terutama oleh kekuatan superpower: Amerika Serikat dan sekutunya. Tentu saja bukan umat Islam secara umum, namun sekelompok kecil umat Islam yang menganut garis keras dan secara membabi-buta memusuhi non muslim. Peristiwa penyerangan gedung kembar pusat perdagangan di New York, Amerika, 11 September 2001, menjadikan dua kekuatan ini behadap-hadapan secara keras. Akibatnya, apa yang disebut ‘perang terhadap terorisme’ dilancarkan Amerika dan sekutunya dimana-mana di muka bumi ini.
Yang patut digaris bawahi: dua kekuatan ini, yang liberal dan yang Islam politik garis keras, bersifat transnasional, lintas negara. Kedua-duanya menjadi ancaman serius bagi kesinambungan praktik keagamaan Aswaja di Indonesia yang moderat, toleran, seimbang dan adil itu.
Gempuran kekuatan liberal menghantam sendi-sendi pertahanan nilai yang ditanamkan Aswaja selama berabad-abad dari aspeknya yang sapu bersih dan meniscayakan nilai-nilai kebebasan dalam hal apapun dengan manusia (perangkat nalarnya) sebagai pusat, dengan tanpa perlu bimbingan wahyu. Gempuran Islam politik garis keras menghilangkan watak dasar Islam (Aswaja lebih khusus lagi) yang ramah dan menyebar rahmat bagi seluruh alam semesta.
Dua ancaman riil inilah yang mengharuskan Aswaja di Indonesia untuk mengkonsolidasi diri, merapatkan barisan, memvitalkan kembali modal nilai-nilai luhur yang diturunkan dari ajarannya dan pengalaman sejarahnya. Karena sifat dua tantangan ini yang mondial, maka reaksinya pun harus mondial.
Sejauh ini, ikhtiar itu ada. Nahdlatul Ulama melalui forum ICIS (International Conference of Islamic Scholars) sudah tiga kali menggelar pertemuan para ulama-intelektual dunia Islam di Jakarta untuk tujuan dimaksud: tujuan luhur mengembalikan Islam sebagai rahmat bagi semua.
Ke dalam, penggairahan masjid sebagai pusat peradaban dan institusi perawatan nilai-nilai juga disadari semakin penting dilakukan. Manakala masjid berfungsi merawat Aswaja, maka serbuan dua ancaman tadi bisa dilawan pengaruhnya.
Tentu saja, penyikapan yang komprehensif harus diupayakan secara menerus. Nilai dilawan nilai. Instrumen dilawan instrumen. Sudah saatnya, pada tingkat instrumen, organisasi penyangga Aswaja di Indonesia memiliki misalnya, stasiun televisi, production house untuk membuat film berbasis nilai-nilai Aswaja, perusahaan penjaga kemandirian ekonomi umat dan segala institusi baru lainnya agar penyikapan komprehensif dan efektif bisa dilakukan secara maksimal. Wallahua’lam
* Penulis adalah guru madrasah, tinggal di Pondok Pesantren Ta’limussibyan al-Manshuriyah Bonder, Lombok Tengah, NTB