Al-Ghazali dalam karyanya Ihya
Ulumuddin membahas mahabbah secara luas. Dalam pembahasan tersebut, Al-Ghazali
antara lain memberi ulasan pada salah satu syair Rabiatul
Adawiyah tentang pembahagian cinta. Dalam syair disebutkan:
Aku mencintaiMu dengan dua macam cinta
Cinta kerana diriku dan cinta kerana diriMu
Cinta kerana diriku adalah keadaan sentiasa mengingatMu
Cinta kerana diriMu adalah keadaanMu
Menyingkapkan tabir hingga Engkau ku lihat
Baik untuk ini dan baik untuk itu
Pujian bukanlah untukku
bagiMu segala pujian
menurut Al-Ghazali, dalam
memperkatakan pembahagian cinta tersebut, mungkin yang dimaksudkan dengan cinta
kerana diriku atau oleh dorongan hati belaka adalah cinta pada Allah kerana
kebaikan dan kurniaNya. Sedangkan bentuk cinta kedua, kerana diriMu adalah
cinta keindahan dan keagunganNya. Cinta terakhir inilah yang paling luhur dan
mendalam serta merupakan kesihatan melihat keindahan Tuhan.
Sebelum membahas pengertian mahabbah
secara terminologi, terlebih dahulu perlu diungkap pengertian mahabbah menurut
etimonologi. Dalam pengertian terakhir, misalnya, Al-Hujwiri dalam kitabnya
Kasful Mahjub mencoba menjelaskan makna al-hubb (mahabbah). Menurut riwayat,
mahabbah berasal dari kata habbab yang berarti benih-benih yang jatuh ke bumi
di padang pasir. Sebutan hubb diartikan demikian kerana cinta adalah sumber
kehidupan, sebagaimana benih yang merupakan asal mula tanaman. Benih disebarkan
di gurun pasir, tersembunyi di bumi, hujan pun turun, matahari menyinari bumi.
Namun, benih tersebut tidak rusak oleh perubahan musim, malah tumbuh, berbunga
dan memberikan buah. Demikian juga cinta, bilamana ia hadir dalam hati
seseorang, ia tidak akan rosak oleh kehadiran dan ketidakhadiran, oleh senang
atau susah, oleh perpisahan atau kesatuan.
Mahabbah dapat pula diambil dari kata hubb
yang berarti sebuah tempayan yang penuh dengan air tenang, kerana cinta yang
telah terpadu dalam hati dan memenuhi hati, di situ tidak ada lagi ruang bagi
pemikiran selain yang dicinta. Makna lain mahabbah, diambil dari kata hubb yang
berarti empat keping kayu penyangga pada air, karena sebagai pencinta dengan
suka hati menerima apa saja yang dilakukan oleh kekasihnya, berkenan atau
tidak, susah ataupun senang.
Di samping itu, hubb dapat juga diartikan
dengan gelembung-gelembung air dan luapannya di waktu hujan lebat, kerana cinta
merupakan luapan hati yang menundukkan kesatuan dengan kekasih. Makna demikian
diambil dari mahabbah yang diturunkan dari kata hubbab. Hubb juga dijadikan
sebagai sebutan cinta murni.
Cinta adalah fitrah alamiah manusia.
Atas dasar ini kita melihat bahawa setiap manusia tertarik pada anggota2 lain
di antara jenisnya dengan suatu kekuatan batin.
Masih dalam pembahasan yang sama,
Prof. Harun Nasution menjelaskan cinta sebagai berikut:
a)Memeluk kepatuhan
kepada Tuhan dan membenci sikap melawanNya
b)Menyerahkan seluruh
diri kepada Yang Dikasihi
c)Mengosongkan hati
dari segala-galanya, kecuali dari Yang Dikasihi.
Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia
berkata: Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Aku didatangi Buraq. Lalu aku menunggangnya
sampai ke Baitulmakdis. Aku mengikatnya pada pintu mesjid yang biasa digunakan
mengikat tunggangan oleh para nabi. Kemudian aku masuk ke mesjid dan
mengerjakan salat dua rakaat. Setelah aku keluar, Jibril datang membawa bejana
berisi arak dan bejana berisi susu. Aku memilih susu, Jibril berkata: Engkau
telah memilih fitrah.
Lalu Jibril membawaku naik ke langit. Ketika
Jibril minta dibukakan, ada yang bertanya: Siapakah engkau? Dijawab: Jibril.
Ditanya lagi: Siapa yang bersamamu? Jibril menjawab: Muhammad. Ditanya: Apakah
ia telah diutus? Jawab Jibril: Ya, ia telah diutus. Lalu dibukakan bagi kami.
Aku bertemu dengan Adam. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan.
Kemudian aku dibawa naik ke langit kedua. Jibril as. minta dibukakan. Ada yang
bertanya: Siapakah engkau? Jawab Jibril: Jibril. Ditanya lagi: Siapakah yang
bersamamu? Jawabnya: Muhammad. Ditanya: Apakah ia telah diutus? Jawabnya: Dia
telah diutus. Pintu pun dibuka untuk kami. Aku bertemu dengan Isa bin Maryam
as. dan Yahya bin Zakaria as. Mereka berdua menyambutku dan mendoakanku dengan
kebaikan. Aku dibawa naik ke langit ketiga. Jibril minta dibukakan. Ada yang
bertanya: Siapa engkau? Dijawab: Jibril. Ditanya lagi: Siapa bersamamu?
Muhammad saw. jawabnya. Ditanyakan: Dia telah diutus? Dia telah diutus, jawab
Jibril. Pintu dibuka untuk kami. Aku bertemu Yusuf as. Ternyata ia telah
dikaruniai sebagian keindahan. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan.
Aku dibawa naik ke langit keempat. Jibril minta dibukakan. Ada yang bertanya:
Siapa ini? Jibril menjawab: Jibril. Ditanya lagi: Siapa bersamamu? Muhammad,
jawab Jibril. Ditanya: Apakah ia telah diutus? Jibril menjawab: Dia telah
diutus. Kami pun dibukakan. Ternyata di sana ada Nabi Idris as. Dia menyambutku
dan mendoakanku dengan kebaikan. Allah Taala berfirman Kami mengangkatnya pada
tempat (martabat) yang tinggi. Aku dibawa naik ke langit kelima. Jibril minta
dibukakan. Ada yang bertanya: Siapa? Dijawab: Jibril. Ditanya lagi: Siapa
bersamamu? Dijawab: Muhammad. Ditanya: Apakah ia telah diutus? Dijawab: Dia
telah diutus. Kami dibukakan. Di sana aku bertemu Nabi Harun as. Dia
menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Aku dibawa naik ke langit keenam.
Jibril as. minta dibukakan. Ada yang bertanya: Siapa ini? Jawabnya: Jibril. Ditanya
lagi: Siapa bersamamu? Muhammad, jawab Jibril. Ditanya: Apakah ia telah diutus?
Jawabnya: Dia telah diutus. Kami dibukakan. Di sana ada Nabi Musa as. Dia
menyambut dan mendoakanku dengan kebaikan. Jibril membawaku naik ke langit
ketujuh. Jibril minta dibukakan. Lalu ada yang bertanya: Siapa ini? Jawabnya:
Jibril. Ditanya lagi: Siapa bersamamu? Jawabnya: Muhammad. Ditanyakan: Apakah
ia telah diutus? Jawabnya: Dia telah diutus. Kami dibukakan. Ternyata di sana
aku bertemu Nabi Ibrahim as. sedang menyandarkan punggungnya pada Baitulmakmur.
Ternyata setiap hari ada tujuh puluh ribu malaikat masuk ke Baitulmakmur dan
tidak kembali lagi ke sana. Kemudian aku dibawa pergi ke Sidratulmuntaha yang
dedaunannya seperti kuping-kuping gajah dan buahnya sebesar tempayan. Ketika
atas perintah Allah, Sidratulmuntaha diselubungi berbagai macam keindahan, maka
suasana menjadi berubah, sehingga tak seorang pun di antara makhluk Allah mampu
melukiskan keindahannya. Lalu Allah memberikan wahyu kepadaku. Aku diwajibkan
salat lima puluh kali dalam sehari semalam. Tatkala turun dan bertemu Nabi saw.
Musa as., ia bertanya: Apa yang telah difardukan Tuhanmu kepada umatmu? Aku
menjawab: Salat lima puluh kali. Dia berkata: Kembalilah kepada Tuhanmu,
mintalah keringanan, karena umatmu tidak akan kuat melaksanakannya. Aku pernah
mencobanya pada Bani Israel. Aku pun kembali kepada Tuhanku dan berkata: Wahai
Tuhanku, berilah keringanan atas umatku. Lalu Allah mengurangi lima salat
dariku. Aku kembali kepada Nabi Musa as. dan aku katakan: Allah telah
mengurangi lima waktu salat dariku. Dia berkata: Umatmu masih tidak sanggup
melaksanakan itu. Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan lagi. Tak
henti-hentinya aku bolak-balik antara Tuhanku dan Nabi Musa as. sampai Allah
berfirman: Hai Muhammad. Sesungguhnya kefarduannya adalah lima waktu salat
sehari semalam. Setiap salat mempunyai nilai sepuluh. Dengan demikian, lima
salat sama dengan lima puluh salat. Dan barang siapa yang berniat untuk
kebaikan, tetapi tidak melaksanakannya, maka dicatat satu kebaikan baginya.
Jika ia melaksanakannya, maka dicatat sepuluh kebaikan baginya. Sebaliknya
barang siapa yang berniat jahat, tetapi tidak melaksanakannya, maka tidak
sesuatu pun dicatat. Kalau ia jadi mengerjakannya, maka dicatat sebagai satu kejahatan.
Aku turun hingga sampai kepada Nabi Musa as., lalu aku beritahukan padanya. Dia
masih saja berkata: Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan. Aku
menyahut: Aku telah bolak-balik kepada Tuhan, hingga aku merasa malu
kepada-Nya. (Shahih Muslim No.234)
Perintis jejak pertama yang
mengenakan mahkota fuqaha ahli hadits adalah para sahabat Rasulullah
Shalallahu’alaihi Wassallam.
Yang paling masyhur dari mereka antara lain:
1.Khalifah yang empat (Radhiyallahu ‘anhum ) :
Abu Bakr Ash-Shiddiq
Umar bin Al-Khaththab
Utsman bin Affan
Ali bin Abi Thalib.
2.Al-Abadillah (Radhiyallahu ‘anhum ) :
Ibnu Umar
Ibnu Abbas
Ibnu Az-Zubair
Ibnu Amr
Ibnu Mas'ud
Aisyah
Ummu Salamah
Zainab
Anas bin Malik
Zaid bin Tsabit
Abu Hurairah
Jabir bin Abdillah
Abu Said Al-Khudri
Mu'adz bin Jabal
3.Setelah sahabat Rasulullah adalah para tokoh tabi'in
Rahimahumullah antara lain:
Said bin Al-Musayyib wafat
90 H
Urwah bin Az-Zubair wafat
94 H
Ali bin Al-Husain Zainal
Abidin wafat 93 H
Muhammad bin Al-Hanafiyah
wafat 80 H
Ubaidullah bin Abdillah
bin Utbah bin Mas'ud wafat 94 H atau setelahnya
Salim bin Abdullah bin
Umar wafat 106 H
Al-Qasim bin Muhammad bin
Abi Bakr Ash- Shiddiq wafat 106 H
Al-Hasan Al-Bashri wafat
110 H
Muhammad bin Sirin wafat
110 H
Umar bin Abdul Aziz wafat
101 H
Muhammad bin Syihab
Az-Zuhri wafat 125 H
4.Kemudian tabi'ut tabi'in dan tokoh mereka Rahimahumullah :
Malik bin Anas wafat 179 H
Al-Auza'i wafat 157 H
Sufyan bin Said Ats-Tsauri
wafat 161 H
Sufyan bin Uyainah wafat
193 H
Ismail bin Aliyah wafat
193 H
Al-Laits bin Sa'ad wafat
175 H
Abu Hanifah An-Nu'man
wafat 150 H
5.Kemudian pengikut mereka di antara tokoh mereka Rahimahumullah:
Abdul.lah bin Al-Mubarak
wafat 181 H
Waki' bin Al-Jarrah wafat
197 H
Muhammad bin Idris
Asy-Syafi'I wafat 204 H
Abdurrahman bin Mahdi
wafat 198 H
Yahya bin Said Al-Qathan
wafat 198 H
Affan bin Muslim wafat 219
H
6.Kemudian murid-murid mereka
yang berjalan di atas manhaj mereka di antaranya (Rahimahumullah) :
Ahmad bin Hambal wafat 241
H
Yahya bin Ma'in wafat 233
H
Ali bin Al-Madini wafat
234 H
7.Kemudian murid-murid mereka di antaranya (Rahimahumullah) :
Al-Bukhari wafat 256 H
Muslim wafat 271 H
Abu Hatim wafat 277 H
Abu Zur'ah wafat 264 H
Abu Dawud : wafat 275 H
At-Turmudzi wafat 279 H
wafat 303 H
An Nasa'i wafat 234 H
8.Kemudian orang-orang yang berjalan di atas jalan mereka dari
generasi ke generasi antara lain (Rahimahumullah):
Ibnu Jarir wafat 310 H
Ibnu Khuzaimah wafat 311 H
Ad-Daruquthni wafat 385 H
Ath-Thahawi wafat 321 H
Al-Ajurri wafat 360 H
Ibnu Baththah wafat 387 H
Ibnu Abu Zamanain wafat
399 H
Al-Hakim An-Naisaburi
wafat 405 H
Al-Lalika'i wafat 416 H
Al-Baihaqi wafat 458 H
Ibnu Abdil Bar wafat 463 H
Al-Khathib Al-Baghdadi
wafat 463 H
AI-Baghawi wafat 516 H
Ibnu Qudamah wafat 620 H
9.Di antara murid mereka dan orang meniti jejak mereka
(Rahimahumullah) :
Ibnu Abi Syamah wafat 665
H
lbnu Taimiyah wafat 652 H
Ibnu Daqiq Al-led wafat
702 1-1
Ibnu Ash-Shalah wafat 643
H
Ibnu Taimiyah wafat 728 H
Al-Mizzi wafat 742 H
Ibnu Abdul Hadi wafat 744
H
Adz-Dzahabi wafat 748 H
Ibnul Qayyim wafat 751 H
Ibnu Katsir wafat 774 H
Asy-Syathibi wafat 790 H
Ibnu Rajab wafat 795 H
10.Ulama setelah mereka yang mengikut jejak mereka di dalam
berpegang dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah sampai hari ini. Di antara mereka (Rahimahumullah)
:
Ash-Shan'ani wafat 1182 H
Muhammad bin Abdul Wahhab
wafat 1206 H
Al-Luknawi wafat 1304 H
Muhammad Shiddiq Hasan
Khan wafat 1307 H
Syamsul Haq Al-Azhim
wafat 1349 H
Al-Mubarakfuri wafat 1353
H
Abdurrahman As-Sa`di
wafat 1367 H
Ahmad Syakir wafat 1377 H
Al-Mu'allimi Al-Yamani
wafat 1386 H
Muhammad bin Ibrahim Alu
Asy-Syaikh wafat 1389 H
Muhammad Amin
Asy-Syinqithi wafat 1393 H
Badi'uddin As-Sindi wafat
1416 H
Muhammad Nashiruddin
Al-Albani wafat 1420 H
Abdul Aziz bin Abdillah
Baz wafat 1420 H
Hammad Al-Anshari wafat
1418 H
Hamud At-Tuwaijiri wafat
1413 H
Muhammad Al-Jami wafat
1416 H
Muhammad bin Shalih
Al-Utsaimin wafat 1423 H
Shalih bin Fauzan
Al-Fauzan (h)
Abdul Muhsin Al-Abbad (h)
Rabi' bin Hadi
Al-Madkhali (h)
Muqbil bin Hadi Al-Wadi'i
wafat 1423 H
Di antara guru-guru dan
teman-teman kami serta orang-orang yang kami kenal dari kalangan penuntut ilmu-
semoga Allah membaikkan akhir hayat kami dan mereka berada di atas jalan ahli
hadits. Itulah syiar dan slogan mereka semoga Allah mengampuni mereka semua,
dan
menganugrahkan kepada kami dan mereka ketetapan di atas kebenaran dan
menjadikan akhir amalan kami kebaikan, kenikmatan dan kemuliaan-Nya.
Tntu sja mreka bribdah dsertai hrapan& rsa tkut kpda
Alloh.Orng2 yg bribdah krena rsa tkutpun disertai hrapan&ksdaran pnuh
pngertian.Ttapi umumnya mnusia hnya mngkuti keadaan dmana ia brada.Bsa jdi apa
yg dktakan oleh smntara ahli tasawuf mngenai orng yg bribdah dgn mnghrapkan
phla krna tkut,tmpaknya krng dmngerti atw dtrima dgn pngertian keliru.Hal itu
sbnarnya dmksudkan untuk mnkankan,bhwa amal ibdah yg smta2 hnya untuk mmtuhi
printah Alloh tntu lbih afdlol dripda ibdah smta2 krna hrapan&ktkutan.
Dmikianlah dduk prsoalannya.Nmun,msing2 ibdah mmpnyai
pringkat/mqom yg tdk sma.Yg stu lbih tnggi dripda yg lain.Mnusia tdk brwenang
mntapkan ibdah apa mnrut plihannya sndiri,sbab ibdah itu adlah printah Alloh
Swt.Dia-lah yg yg mwjibkan ibdah kpada siapa sja dri hmba2-Nya,dmana sja dan
mnrut khndak-Nya.Alloh Yg Mha Bnarlah yg mnntukan slah stu dri 3 mqom/pringkat
itu,&mwjibkannya kpada glongan trtntu kaum beriman.3mqom
ibdah itu adlah:bribdah smta2 krna printah Alloh,bribdah krena suatu
hrapan,&bribdah krna tkut kpda hkuman Alloh.Keadaan msing2 glongan atw
klmpok tdk akan mnjdi lrus kcuali dgn mngmalkan ibdah ssuai dgn yg dwjibkan
kpda mreka.Mngkin ada smentra orng dri kaum ahli ma'rifat yg mmndang rndah orng
lain yg bribdah krna hrapan akan beroleh phala.Ia dpndang lbih rndah dripda
orng yg bribdah tdk atas drongan ingin beroleh gnjran phla&tdk trdrong oleh
ktakutannya kpada hkuman/siksa.Ia tdk lg bribdah scra "asli"
sbgaimana yg dperintahkan Alloh.Dgn dmikian seakan2 di dlam htinya tdk trdpat
prasaan mngagungkan kbsaran Alloh yg tlah mmrintahkan dri mreka mnjalankan
printah2-Nya.Mslah dmikian itu sngguh tdk jlas.Sya brpndpat,bhwa dlm mmandang
mslah scra dmikian itu trdpat ssuatu yg mnyrupai kslahan.Nmun ada smntara ahli
tarekat yg mnekuninya.Sya ktakan,bribdah mmtuhi printah Alloh,mndmbakan
keridloan-Nya&mndkatkan dri kpda-Nya adlah sngat baik.Ibdah yg dsertai
hrapan beroleh phala&prasaan tkut kpada hkuman/siksa jga sngat baik.Smua
ahlulloh/kaum briman pda umumnya mngmalkan 3 maqom/pringkat ibdah tsb dgn
lngkap&smpurna.
Oleh krena itu,hndaklah mnusia mnydari kwjiban apa yg tlah
dittapkan Alloh bginya,&mngmalkannya dgn baik.Jngn smpai sprti buruh upahan
yg jlek,yg jka tdk dberi upah ia tdk mau bkerja.&jngn pula sperti bdak yg
jlek,yg jka bkan krena tkut pkulan ia tdk mau brlku sopan.Hndaklah stiap orang
bribdah dmi krena Alloh,sbab Alloh adlah Pnguasanya,Pmiliknya,&Plindungnya
srta Pngtur hdup&mtinya.Krena itulah Alloh mntapkan printah &lrangan
tuk ditaati&dpatuhi hmba2-Nya.Mnghrapkan gnjran phala &karunia Alloh
adlah hal yg baik.Nmun,hrus disrtai prasaan tkut akan hkuman sbgai akibat pula
dri kelalainnya sndiri dlm mnunaikan kwjiban ibdah kpada Alloh,Rabbnya.Dlam hal
sprti itu ia ttap dpat menghrapkan ampunan &kselamatan sbgai krunia dri
Alloh.Itulah tarekat(cra mndkatkan diri kpda Alloh) yg pling baik&jlan yg
pling mulus,sbgaimana yg dtempuh&diamalkan oleh kaum solihin &kaum
ulama.Brangsiapa mmperhtikan ucpan&perikehidupan mreka,&ia seorang yg
brpndangan tajam,tentu ia akan mngerti apa yg kami ktakan di atas,&ia pun
tentu akan dpat memahami dgn tepat&benar.Nastagfirulloha wa nahmaduhu
katsiron.Tamat
sory,teks arabnya gak ditulis.silakan dilihat dikitab
nafaisul 'ulwiyah imam Alhadad
orang yang berteman dengan orang yang mulia maka ia akan menjadi mulia,, dan sebaliknya orang yang berteman dengan orang yang hina maka ia akan menjadi hina,,
lihathah ketika kulit sapi, menjadi sampul alqur'an..
semua orang mencium kulit sapi,, pejabat selesai baca qur'an cium kulit sapi,, presiden selesai baca qur'an cium kulit sapi,, bupati selesai baca qur'an cium kulit sapi,, polisi selesai baca qur'an cium kulit sapi,, kiyai selesai baca qur'an cium kulit sapi,,
tapi sebaliknya ketika kulit sapi menempel pada kayu,,
waktu maghrib pukul kulit sapi,, datang waktu ashar waktu isya pukul kulit sapi,, lihatlah saudaraaaa,, perbedaan kulit sapi,, padahal sama2 kulit sapinya,, tapi mendapatkan tingkatan yang berbedaaa,,,
Sebelum kelompok-kelompok teologis dalam Islam
lahir, Ahlussunnah Wal Jamaah (selanjutnya disebut Aswaja) adalah umat Islam
itu sendiri. Namun setelah kelompok-kelompok teologis muncul, Aswaja
berarti para pengikut Abu Hasan al-Asy’ari dan Abu Manshur al-Maturidi.
Dalam
pengertian terakhir ini, Aswaja sepadan dengan kelompok-kelompok teologis
semisal Mu’tazilah, Syiah, Khawarij dan lain-lain.
Dalam sejarahnya, kemunculan kelompok-kelompok ini
dipicu oleh masalah politik tentang siapakah yang berhak menjadi pemimpin umat
Islam (khalifah) setelah kewafatan Rasulullah, Muhammad SAW. Setelah perdebatan
antara kelompok sahabat Muhajirin dan Anshor dituntaskan dengan kesepakatan
memilih Abu Bakar sebagai khalifah pertama, kesatuan pemahaman keagamaan umat
Islam bisa dijaga. Namun menyusul huru-hara politik yang mengakibatkan wafatnya
khalifah ketiga, Utsman Bin Affan, yang disusul dengan perang antara pengikut
Ali dan Muawiyah, umat Islam terpecah menjadi kelompok-kelompok Syiah,
Khawarij, Ahlussunnah dan –disusul belakangan, terutama ketika perdebatan
menjadi semakin teologis oleh—Mu’tazilah dan lain-lain.
Aswaja melihat
bahwa pemimpin tertinggi umat Islam ditentukan secara musyawarah, bukan
turun-temurun pada keturuan Rasulullah SAW sebagaimana pandangan Syiah. Aswaja
memandang keseimbangan fungsi nalar dan wahyu, tidak memposisikan wahyu di atas
nalar sebagaimana pandangan Mu’tazilah. Aswaja melihat manusia memiliki
kekuasaan terbatas (kasb) dalam menentukan perbuatan-perbuatannya,
bukan semata disetir oleh kekuatan absolut di luar dirinya (sebagaimana
pandangan Jabariyah) atau bebas absolut menentukan perbuatannya (sebagaimana
pandangan Qadariyah dan Mu’tazilah).
Pada wilayah penggalian hukum fiqh, Aswaja
(sebagaimana diwakili oleh Imam yang empat: Hanafi, Maliki, Syafi’i dan
Hanbali) bersepakat menggunakan empat sumber hukum: Al-Qur’an, Sunnah, Ijma’,
Qiyas; dan tidak bersepakatan dalam menggunakan sumber-sumber yang lain
semisal: istihsan, maslahah mursalah, amal ahl al madinah dan lain-lain.
Setelah melalui evolusi sejarah panjang, Aswaja
sekarang ini menjadi mayoritas umat Islam yang tersebar mulai dari Jakarta
(Indonesia) hingga Casablanca (Maroko), disusul oleh Syi’ah di Iran, Bahrain,
Lebanon Selatan; dan sedikit Zaidiyah (pecahan Mu’tazilah) di sejumlah tempat
di Yaman. Dengan mengacu pada ajaran Muhammad Bin Abdulwahhab, rezim Saudi Arabia
berafiliasi kepada apa yang disebut Wahabi. Sementara di Asia Selatan
(Afganistan dan sekitarnya) reinkarnasi Khawarij menemukan tanah pijaknya
dengan sikap-sikap keras dalam mempertahankan dan menyebarkan keyakinan.
Di Indonesia, Aswaja kurang lebih sama dengan
nahdliyin (sebutan untuk jamaah Nahdlatul Ulama), meskipun jamaah Muhammadiyah
adalah juga Aswaja dengan sedikit perbedaan pada praktik hukum-hukum fiqh. Artinya,
arus besar umat Islam di Indonesia adalah Aswaja.
Yang paling
penting ditekankan dalam internalisasi ajaran Aswaja di Indonesia adalah sikap
keberagamaan yang toleran (tasamuh), seimbang (tawazun),
moderat (tawassuth) dan konsisten pada sikap adil (i’tidal).
Ciri khas sikap beragama macam inilah yang menjadi kekayaan arus besar umat
Islam Indonesia yang
menjamin kesinambungan hidup Indonesia
sebagai bangsa yang plural dengan agama, suku dan kebudayaan yang berbeda-beda.
Ada dua
kekuatan besar yang menjadi tantangan Aswaja di Indonesia sekarang ini dan di
masa depan: kekuatan liberal di satu pihak dan kekuatan Islam politik garis
keras di pihak yang lain. Kekuatan liberal lahir dari sejarah panjang
pemberontakan masyarakat Eropa (dan kemudian pindah Amerika) terhadap
lembaga-lembaga agama sejak masa pencerahan (renaissance) yang dimulai pada
abad ke-16 masehi; satu pemberontakan yang melahirkan bangunan filsafat
pemikiran yang bermusuhan dengan ajaran (dan terutama lembaga) agama; satu
bangunan pemikiran yang melahirkan modernitas; satu struktur masyarakat kapital
yang dengan globalisasi menjadi seolah banjir bandang yang siap menyapu
masyarakat di negara-negara berkembang, termasuk di Indonesia.
Sebagai
reaksinya, sejak era perang dingin berakhir dengan keruntuhan Uni Soviet, Islam
diposisikan sebagai “musuh” terutama oleh kekuatan superpower: Amerika Serikat
dan sekutunya. Tentu saja bukan umat Islam secara umum, namun sekelompok kecil
umat Islam yang menganut garis keras dan secara membabi-buta memusuhi non
muslim. Peristiwa penyerangan gedung kembar pusat perdagangan di New York, Amerika, 11
September 2001, menjadikan dua kekuatan ini behadap-hadapan secara keras.
Akibatnya, apa yang disebut ‘perang terhadap terorisme’ dilancarkan Amerika dan
sekutunya dimana-mana di muka bumi ini.
Yang patut
digaris bawahi: dua kekuatan ini, yang liberal dan yang Islam politik garis
keras, bersifat transnasional, lintas negara. Kedua-duanya menjadi ancaman
serius bagi kesinambungan praktik keagamaan Aswaja di Indonesia yang moderat,
toleran, seimbang dan adil itu.
Gempuran
kekuatan liberal menghantam sendi-sendi pertahanan nilai yang ditanamkan Aswaja
selama berabad-abad dari aspeknya yang sapu bersih dan meniscayakan nilai-nilai
kebebasan dalam hal apapun dengan manusia (perangkat nalarnya) sebagai pusat,
dengan tanpa perlu bimbingan wahyu. Gempuran Islam politik garis keras
menghilangkan watak dasar Islam (Aswaja lebih khusus lagi) yang ramah dan
menyebar rahmat bagi seluruh alam semesta.
Dua ancaman riil inilah yang mengharuskan Aswaja
di Indonesia untuk mengkonsolidasi diri, merapatkan barisan, memvitalkan
kembali modal nilai-nilai luhur yang diturunkan dari ajarannya dan pengalaman
sejarahnya. Karena sifat dua tantangan ini yang mondial, maka reaksinya
pun harus mondial.
Sejauh ini,
ikhtiar itu ada. Nahdlatul Ulama melalui forum ICIS (International Conference
of Islamic Scholars) sudah tiga kali menggelar pertemuan para ulama-intelektual
dunia Islam di Jakarta untuk tujuan dimaksud: tujuan luhur mengembalikan Islam
sebagai rahmat bagi semua.
Ke dalam,
penggairahan masjid sebagai pusat peradaban dan institusi perawatan nilai-nilai
juga disadari semakin penting dilakukan. Manakala masjid berfungsi merawat
Aswaja, maka serbuan dua ancaman tadi bisa dilawan pengaruhnya.
Tentu saja,
penyikapan yang komprehensif harus diupayakan secara menerus. Nilai dilawan
nilai. Instrumen dilawan instrumen. Sudah saatnya, pada tingkat instrumen,
organisasi penyangga Aswaja di Indonesia memiliki misalnya, stasiun televisi,
production house untuk membuat film berbasis nilai-nilai Aswaja, perusahaan
penjaga kemandirian ekonomi umat dan segala institusi baru lainnya agar
penyikapan komprehensif dan efektif bisa dilakukan secara maksimal. Wallahua’lam
* Penulis adalah guru madrasah, tinggal di Pondok
Pesantren Ta’limussibyan al-Manshuriyah Bonder, Lombok Tengah, NTB